MAKALAH
ILMU BUDAYA DASAR
“GANGGUAN
KEJIWAAN PADA MANUSIA: SCHIZOPHRENIA”
Disusun
oleh :
Nama : Muhammad
Farhansyah Ibrahim
Kelas : 1PA10
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2019
KATA PENGANTAR
Puji
syukur saya sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya
saya dapat menyelesaikan penulisan makalah ini sesuai yang diharapkan. Dalam
penulisan makalah ini saya membahas tentang “Gangguan Kejiwaan Pada Manusia:
Schizophrenia”.
Makalah ini dibuat dan diajukan untuk memenuhi tugas
pada mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Dalam proses penulisan makalah ini mengenai
materi Gangguan Kejiwaan Pada Manusia, saya mengucapkan terima kasih yang
mendapatkan arahan, koreksi dan saran kepada :
1. Ibu
Ratna Komala, selaku dosen mata kuliah “Ilmu Budaya Dasar”.
2. Teman-teman
mahasiswa kelas 1PA10 Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma yang telah
memberikan masukan untuk makalah ini.
Saya memahami bahwa makalah saya belum sempurna dan dibutuhkan pendalaman
lebih lanjut. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan makalah ini. Saya juga
berharap semoga gagasan pada makalah ini dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan
dan kesehatan di Indonesia pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
Depok,
November 2019
(Penulis)
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL / COVER ……………………………….................................
i
KATA
PENGANTAR
…………………………...……............................................. ii
DAFTAR
ISI
………………………………................................................................
iii
BAB
I PENDAHULUAN
……………………………………...................................... 1
1.1. Latar Belakang
………..…………………………………….......................... 1
1.2. Rumusan Masalah
……………………………………................................... 2
1.3. Tujuan Penulisan
……………………………………..................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN
……………………………………....................................... 3
2.1. Definisi Schizophrenia .…………………...…..……………….………..….
3
2.2. Gejala Schizophrenia
……………………………………..……................... 4
2.3. Penyebab Schizophrenia ....…………….........................................................
5
2.4. Dampak Schizophrenia ….………………….………......…....…..........……. 7
2.5. Penanganan Schizophrenia ….…………….………..…………………….…. 8
DAFTAR
PUSTAKA
..................................................................................................
10
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Gangguan jiwa adalah sindrom atau
pola perilaku yang secara klinis berhubungan dengan distres atau penderitaan
dan menimbulkan gangguan pada satu atau lebih fungsi kehidupan manusia.
Gangguan jiwa merupakan salah satu gangguan mental yang disebabkan oleh berbagai
faktor yang berasal dari dalam (diri sendiri) maupun luar (lingkungan).
Gangguan jiwa merupakan suatu
penyakit yang bisa terjadi pada semua orang dan tanpa mengenal ras, budaya,
umur, jenis kelamin, bahkan status ekonomi. Gangguan jiwa dapat dikenali dengan
perubahan tingkah laku, pola pikir dan emosi yang berubah secara mendadak tanpa
disertai alasan yang jelas. Stres yang menjadi pemicu awal terjadinya gangguan
jiwa akan membuat seseorang tidak mampu beraktivitas secara normal. Jika stres
ini tidak ditangani secara cepat maka akan berlanjut pada gejala gangguan
kejiwaan.
Di Indonesia, pengetahuan masyarakat
tentang gangguan jiwa dan kesehatan mental masih sangat dangkal dan mayoritas
orang-orang hanya menyimpulkan gangguan jiwa dengan stigma sederhana, yakni
gila. Padahal, gangguan jiwa sendiri bermacam-macam jenisnya, penyebabnya, dan
penanganannya. Masing-masing gangguan jiwa butuh pendalaman khusus untuk
dipelajari dan ditangani.
Di kesempatan kali ini, penulis akan
membahas topik tentang salah satu jenis gangguan jiwa yakni Schizophrenia.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Untuk memperjelas tentang
Schizophrenia, maka akan kita bahas mengenai:
1. Apa Schizophrenia secara umum?
2. Apa gejala-gejala dari Schizophrenia?
3. Apa penyebab
dari Schizophrenia?
4. Apa dampak dari
Schizophrenia?
5. Bagaimana cara
menanggulangi Schizophrenia?
1.3. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan, yaitu:
- Dapat mengenali Schizophrenia secara mendalam.
2. Dapat mengetahui
gejala, penyebab, dan dampak dari Schizophrenia.
3. Dapat mengerti cara penanganan dari Schizophrenia.
4. Dapat memahami gangguan jiwa secara mendalam dan melek terhadap
kesehatan mental orang sekitar.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. DEFINISI
SCHIZOPHRENIA
Schizophrenia (atau Skizofrenia dalam Bahasa
Indonesia) adalah gangguan kejiwaan kronis ketika pengidapnya mengalami
halusinasi, delusi, dan juga menunjukan perubahan sikap. Pengidap schizophrenia
umumnya mengalami kesulitan untuk membedakan antara kenyataan dengan pikiran
yang ada pada diri si pengidap. Penderita gangguan jiwa schizophrenia mengalami
beberapa hal seperti halusinasi, khayalan, dan gangguan pada pemikiran dan
perilaku. Kebanyakan dari penderita mengalami ketakutan atau paranoid yang luar
biasa. Schizophrenia dikatakan merupakan kondisi yang kronis karena pengidapnya
tidak dapat dilepaskan dari pengobatan. Kebanyakan mereka mendapatkan perawatan
seumur hidup. Sebaiknya kamu mengenali fakta mengenai schizophrenia untuk dapat
mengidentifikasi penyakit ini. Berikut ini jenis schizophrenia berdasarkan
gejala yang muncul:
·
Schizophrenia Paranoid
·
Jenis schizophrenia ini
paling sering muncul gejalanya, termasuk di antaranya adalah sering mengalami
delusi dan halusinasi. Pengidap menunjukkan perilaku yang tidak normal seakan
ia sedang diawasi sehingga ia menunjukkan rasa marah, gelisah, bahkan benci
terhadap seseorang. Mereka yang mengalami schizophrenia paranoid masih memiliki
fungsi intelektual dan ekspresi yang tergolong normal.
·
Schizophrenia Katonik
·
Pengidap schizophrenia jenis ini
dikenali dengan adanya gangguan pergerakan. Mereka cenderung tidak bergerak
atau justru bergerak hiperaktif. Beberapa juga ditemukan sama sekali tidak mau
berbicara, atau senang mengulangi perkataan orang lain. Pengidap penyakit ini
sering kali tidak memedulikan kondisi kebersihan dirinya dan tidak mampu
menyelesaikan aktivitas yang dilakukan.
·
Schizophrenia Tidak
Teratur (Unstable)
·
Jenis ini adalah jenis yang memiliki
kemungkinan paling kecil untuk disembuhkan. Pengidap gangguan jiwa tipe ini
ditandai dengan ucapan dan tingkah laku yang tidak teratur dan sulit dipahami.
Terkadang mereka tertawa tanpa alasan jelas, atau terlihat sibuk dengan
persepsi yang mereka miliki.
·
Schizophrenia
Differentiative
·
Jenis schizophrenia ini
adalah yang paling sering terjadi. Gejala yang muncul adalah kombinasi dari
ketiga subtipe dari schizophrenia lainnya.
2.2.
GEJALA SCHIZOPHRENIA
Schizophrenia terbagi menjadi dua
kategori, yaitu positif dan negatif. Berikut ini penjelasan dari dua kategori
gejala penyakit tersebut:
1. Gejala Negatif
Gejala schizophrenia negatif adalah
kondisi ketika sifat dan kemampuan yang dimiliki orang normal, seperti
konsentrasi, pola tidur normal, dan juga memiliki motivasi hidup menjadi
hilang. Umumnya, gejala tersebut ditambah dengan ketidakmauan seseorang untuk
bersosialisasi dan merasa tidak nyaman saat bersama orang lain. Ciri-ciri orang
yang mengidap gejala schizophrenia negatif, yaitu terlihat apatis dan buruk
secara emosi, tidak peduli terhadap penampilan diri sendiri dan menarik diri
dari pergaulan.
2. Gejala Positif
Biasanya berupa delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan adanya perubahan
perilaku.
2.3.
PENYEBAB SCHIZOPHRENIA
Meski penyebab utama
schizophrenia belum ditemukan, ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab
dari schizophrenia, antara lain:
- Faktor Genetik
Keturunan dari pengidap
schizophrenia, memiliki risiko 10 persen lebih tinggi untuk mengidap
schizophrenia. Risiko tersebut akan meningkat 40 persen lebih besar ketika
kedua orang tua sama-sama pengidap schizophrenia. Sementara itu, anak kembar
yang salah satunya menderita schizophrenia, risiko akan meningkat 50 persen
lebih besar.
- Komplikasi saat Kehamilan dan
Persalinan
Schizophrenia dapat
disebabkan oleh beberapa kondisi yang mungkin terjadi ketika masa kehamilan dan
dampaknya akan terlihat ketika anak tersebut lahir. Kondisi tersebut, seperti
paparan racun dan virus, ibu seorang pengidap diabetes, perdarahan dalam masa
kehamilan, serta kekurangan nutrisi. Selain dari kehamilan, komplikasi yang
terjadi pada masa persalinan juga dapat menyebabkan seorang anak mengidap
schizophrenia. Contoh komplikasi yang dimaksud, seperti berat badan yang
terlalu rendah saat kelahiran, kelahiran yang prematur, dan asfiksia atau
kekurangan oksigen saat dilahirkan.
- Faktor Kimia pada Otak
Ketidakseimbangan kadar
serotonin dan dopamine pada otak, dapat menjadi salah satu penyebab dan
meningkatkan resiko seseorang mengidap schizophrenia. Keduanya merupakan zat
kimia yang berfungsi untuk mengirim sinyal antara sel-sel otak sebagai bagian
dari neurotransmitter.
Selain itu, pengidap
schizophrenia juga memiliki perbedaan struktur dan fungsi otak, bila
dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki gangguan mental. Perbedaan
tersebut antara lain:
·
Ventrikel otak memiliki
ukuran yang lebih besar. Ventrikel sendiri adalah bagian dalam otak yang berisi
cairan.
·
·
Lobus temporalis memiliki
ukuran yang lebih kecil. Ingatan dalam otak manusia berkaitan dengan lobus
temporalis.
·
·
Sel-sel pada otak
memiliki koneksi yang lebih sedikit.
·
- Faktor Risiko Schizophrenia
Setiap orang bisa saja
terkena schizophrenia tanpa mengenal umur, tetapi umumnya kalangan remaja dan
orang yang baru menginjak usia 20 tahun awal memiliki faktor risiko yang lebih
tinggi untuk terkena schizophrenia. Beberapa faktor yang menjadi faktor risiko
schizophrenia, yaitu:
·
Bentuk struktur otak dan
sistem saraf pusat yang tidak normal.
·
·
Faktor genetik dari orang
tua.
·
·
Kekurangan oksigen,
kekurangan nutrisi dan terkena virus saat didalam kandungan.
·
·
Lahir dengan kondisi
prematur.
·
·
Peningkatan aktivasi pada
sistem kekebalan tubuh.
·
·
Ketidakseimbangan kadar
serotonin dan dopamine.
·
·
Peningkatan aktivasi pada
sistem kekebalan tubuh.
·
·
Penyalahgunaan dari
obat-obat terlarang.
2.4. DAMPAK SCHIZOPHRENIA
Schizophrenia melibatkan sejumlah masalah dengan
pemikiran (kognisi), perilaku atau emosi. Tanda dan gejala dapat bervariasi,
tetapi biasanya melibatkan delusi, halusinasi atau ucapan tidak teratur, dan
mencerminkan gangguan kemampuan untuk berfungsi. Gejala mungkin termasuk:
·
Delusi. Ini adalah keyakinan salah yang
tidak didasarkan pada kenyataan. Misalnya, penderita berpikir bahwa penderita
sedang dirugikan atau dilecehkan; gerakan atau komentar tertentu diarahkan pada
penderita; penderita memiliki kemampuan atau popularitas yang luar biasa; orang
lain jatuh cinta dengan penderita; atau bencana besar akan terjadi. Delusi
terjadi pada kebanyakan orang dengan schizophrenia.
·
Halusinasi. Ini biasanya melibatkan
melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada. Namun untuk orang dengan
schizophrenia, mereka memiliki kekuatan penuh dan dampak dari pengalaman
normal. Halusinasi bisa masuk akal, tetapi mendengar suara adalah halusinasi
yang paling umum.
·
Berpikir tidak teratur (ucapan). Pemikiran
yang tidak teratur disimpulkan dari ucapan yang tidak teratur. Komunikasi yang
efektif dapat terganggu, dan jawaban atas pertanyaan mungkin sebagian atau
seluruhnya tidak terkait.
·
Perilaku motorik yang sangat tidak teratur
atau abnormal. Ini dapat ditunjukkan dalam beberapa cara, dari kekonyolan seperti
anak kecil sampai agitasi yang tidak terduga. Perilaku tidak terfokus pada
tujuan, membuat sulit untuk beraktivitas. Perilaku dapat mencakup penolakan
terhadap instruksi, sikap yang tidak pantas atau aneh, kurangnya respons, atau
gerakan yang tidak berguna dan berlebihan.
·
Gejala negatif. Ini mengacu pada
berkurangnya atau kurangnya kemampuan untuk berfungsi secara normal. Misalnya,
orang tersebut mungkin mengabaikan kebersihan pribadi atau tampak kurang emosi
(tidak melakukan kontak mata, tidak mengubah ekspresi wajah atau berbicara
dengan nada monoton). Juga, orang tersebut mungkin kehilangan minat dalam
kegiatan sehari-hari, menarik secara sosial atau kurang memiliki kemampuan
untuk mengalami kesenangan.
Pada pria, gejala schizophrenia biasanya dimulai pada
awal hingga pertengahan 20-an. Pada wanita, gejala biasanya dimulai pada akhir
20-an. Tidak umum bagi anak-anak untuk didiagnosis menderita schizophrenia dan
jarang terjadi pada mereka yang berusia di atas 45 tahun.
2.5. PENANGANAN SCHIZOPHRENIA
Schizophrenia dapat diobati dengan menggunakan
beberapa cara, seperti mengkombinasikan obat-obatan melalui terapi psikologis.
Obat dengan resep pada pengobatan schizophrenia ini adalah antipsikotik yang
dapat mempengaruhi zat neurotransmitter di dalam otak, yang bisa menurunkan
rasa cemas, menurunkan atau mencegah halusinasi dan membantu menjaga kemampuan
berpikir.
Dokter umumnya akan memberikan obat-obatan
antipsikotik kepada pengidap schizophrenia untuk mengurangi atau menghilangkan
gejalanya. Pengobatan lainnya dengan terapi kejut listrik atau elektrokonvulsif
(ECT). Metode ECT dengan cara memberikan aliran listrik eksternal ke otak
pengidap yang sebelumnya sudah di anestesi atau ditidurkan sehingga kekacauan
listrik pada otak penyebab gejala halusinasi dapat berkurang.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.halodoc.com/kesehatan/skizofrenia
https://www.halodoc.com/kesehatan/gangguan-jiwa
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/schizophrenia/symptoms-causes/syc-20354443
https://www.halodoc.com/inilah-4-jenis-skizofrenia-yang-perlu-diketahui

No comments:
Post a Comment