Friday, 29 November 2019

Gangguan Kejiwaan Pada Manusia: Dissociative Identity Disorder

MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
“GANGGUAN KEJIWAAN PADA MANUSIA: DISSOCIATIVE IDENTITY DISORDER” 








Disusun oleh :

Nama     :    Muhammad Farhansyah Ibrahim
NPM     :    14519154
Kelas     :    1PA10







FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2019



KATA PENGANTAR

Puji syukur saya sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan penulisan makalah ini sesuai yang diharapkan. Dalam penulisan makalah ini saya membahas tentang “Gangguan Kejiwaan Pada Manusia: Dissociative Identity Disorder”.
Makalah ini dibuat dan diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Dalam proses penulisan makalah ini mengenai materi Gangguan Kejiwaan Pada Manusia, saya mengucapkan terima kasih yang mendapatkan arahan, koreksi dan saran kepada :
1.  Ibu Ratna Komala, selaku dosen mata kuliah “Ilmu Budaya Dasar”.
2.  Teman-teman mahasiswa kelas 1PA10 Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma yang  telah memberikan masukan untuk makalah ini.
Saya memahami bahwa makalah saya belum sempurna dan dibutuhkan pendalaman lebih lanjut. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan makalah ini. Saya juga berharap semoga gagasan pada makalah ini dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan kesehatan di Indonesia pada khususnya dan pembaca pada umumnya.



Depok,  November 2019



                                                                                                             (Penulis)





DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL / COVER ……………………………….................................  i
KATA PENGANTAR  …………………………...…….............................................  ii
DAFTAR ISI ………………………………................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………...................................... 1
1.1. Latar Belakang ………..…………………………………….......................... 1
1.2. Rumusan Masalah ……………………………………................................... 2
1.3. Tujuan Penulisan ……………………………………..................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ……………………………………....................................... 3
2.1. Definisi Dissociative Identity Disorder  .……..……………...…………..….  3
2.2. Gejala Dissociative Identity Disorder  ………………………………............ 3 
2.3. Penyebab Dissociative Identity Disorder ....………………............................ 5
2.4. Dampak Dissociative Identity Disorder ….…………………………………. 5
2.5. Penanganan Dissociative Identity Disorder ….………………………..……. 6
DAFTAR  PUSTAKA .................................................................................................. 7



BAB  I
PENDAHULUAN

1.1.    LATAR BELAKANG
Gangguan jiwa adalah sindrom atau pola perilaku yang secara klinis berhubungan dengan distres atau penderitaan dan menimbulkan gangguan pada satu atau lebih fungsi kehidupan manusia. Gangguan jiwa merupakan salah satu gangguan mental yang disebabkan oleh berbagai faktor yang berasal dari dalam (diri sendiri) maupun luar (lingkungan).
Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang bisa terjadi pada semua orang dan tanpa mengenal ras, budaya, umur, jenis kelamin, bahkan status ekonomi. Gangguan jiwa dapat dikenali dengan perubahan tingkah laku, pola pikir dan emosi yang berubah secara mendadak tanpa disertai alasan yang jelas. Stres yang menjadi pemicu awal terjadinya gangguan jiwa akan membuat seseorang tidak mampu beraktivitas secara normal. Jika stres ini tidak ditangani secara cepat maka akan berlanjut pada gejala gangguan kejiwaan.
Di Indonesia, pengetahuan masyarakat tentang gangguan jiwa dan kesehatan mental masih sangat dangkal dan mayoritas orang-orang hanya menyimpulkan gangguan jiwa dengan stigma sederhana, yakni gila. Padahal, gangguan jiwa sendiri bermacam-macam jenisnya, penyebabnya, dan penanganannya. Masing-masing gangguan jiwa butuh pendalaman khusus untuk dipelajari dan ditangani.
Di kesempatan kali ini, penulis akan membahas topik tentang salah satu jenis gangguan jiwa yakni Dissociative Identity Disorder atau dapat dikenal juga sebagai Multiple Personality Disorder.

1.2.    RUMUSAN MASALAH
  Untuk memperjelas tentang Dissociative Personality Disorder, maka akan kita bahas mengenai:
1.   Apa Dissociative Identity Disorder secara umum?
2.   Apa gejala-gejala dari Dissociative Identity Disorder?
3.  Apa penyebab dari Dissociative Identity Disorder?
4.  Apa dampak dari Dissociative Identity Disorder? 
5.  Bagaimana cara menanggulangi Dissociative Identity Disorder? 

1.3.    TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan, yaitu:
  1. Dapat mengenali Dissociative Identity Disorder secara mendalam.
  2.  
2. Dapat mengetahui gejala, penyebab, dan dampak dari Dissociative Identity Disorder.
3.  Dapat mengerti cara penanganan dari Dissociative Identity Disorder.
4.  Dapat memahami gangguan jiwa secara mendalam dan melek terhadap kesehatan mental orang sekitar.










BAB II
PEMBAHASAN


2.1. DEFINISI DISSOCIATIVE PERSONALITY DISORDER
            Gangguan identitas disosiatif, yang dulu lebih dikenal dengan kepribadian ganda atau multiple personality disorder, adalah suatu kondisi psikologi yang rumit di mana penderitanya memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda-beda, dan secara bergantian mengambil alih kesadaran individu yang mengalaminya.
Beberapa dari kita sering mengalami disosiasi, alias keadaan di mana kita terbawa suasana, daydreaming, saat sedang melamun atau saat sedang bekerja. Gangguan identitas disosiatif adalah bentuk disosiasi yang lebih parah, mengakibatkan seseorang kehilangan kontrol atas pikiran, memori, perasaan, perbuatan, hingga kesadaran atas identitasnya. Identitas yang berbeda ini biasanya juga memiliki dengan nama yang berbeda, temperamen yang berbeda, bahkan self-image yang juga berbeda.


2.2. GEJALA DISSOCIATIVE PERSONALITY DISORDER
Karakteristik utama dari gangguan kepribadian ganda adalah munculnya dua atau lebih kepribadian berbeda-beda yang secara bergiliran mengambil alih atau kendali atas diri penderitanya.
·  Masing-masing dari kepribadian ini memiliki nama, pola pikir, kebiasaan, gaya berbicara, ciri fisik, bahkan gaya tulisan yang berbeda-beda.
·  Tanda-tanda seperti depresi, kecemasan berlebihan, sering merasa bersalah, hingga agresif dapat muncul. Halusinasi baik audio maupun visual juga mungkin terjadi. Pada saat masa kanak-kanak, penderita gangguan identitas disosiatif juga memiliki kecenderungan untuk memiliki masalah perilaku dan kesulitan memfokuskan diri saat di sekolah.
·  Perubahan mood (mood swings), serangan panik, fobia, gangguan makan, gangguan tidur (seperti insomnia dan berjalan saat tidur), sakit kepala berlebihan, serta disfungsi ereksi juga biasanya menyertai gangguan identitas disosiatif.
·  Masalah dalam hal memori juga sering ditemui, terutama ingatan terkait kejadian saat ini maupun masa lampau, orang yang terlibat, tempat, hingga waktu. Masing-masing kepribadian dalam satu orang mungkin memiliki ingatan yang berbeda. Ketika kepribadian pasif sedang mengambil alih, ingatan yang muncul biasanya samar-samar atau bahkan bertentangan dengan kejadian aslinya. Sementara kepribadian yang lebih dominan atau protektif memiliki ingatan yang lebih lengkap atas suatu kejadian. Sehingga tidak jarang penderita tidak mengingat mengapa ia ada di waktu dan tempat tertentu.
·  Masing-masing kepribadian biasanya muncul karena ada pemicunya. Saat salah satu kepribadian mengambil alih, kepribadian dominan ini mungkin mengabaikan kepribadian yang lain atau bahkan mengalami konflik tersendiri. Transisi dari satu kepribadian ke kepribadian lain biasanya dipicu oleh stres psikososial.




2.3. PENYEBAB DISSOCIATIVE PERSONALITY DISORDER
Tidak ada penjelasan pasti mengapa seseorang bisa menderita gangguan identitas disosiatif. Meskipun banyak faktor yang terlibat dalam penyakit ini, tetapi penderita gangguan identitas disosiatif biasanya memiliki latar belakang pengalaman traumatis, terutama pada saat masa kecilnya. Pengalaman traumatis ini bisa berupa penyiksaan berulang kali baik secara emosional, kekerasan fisik, maupun pelecehan seksual. Karena pengalaman ini, seseorang kemudian seolah-olah menciptakan mekanisme pertahanan diri dengan cara menciptakan kepribadian lain di luar kesadarannya agar terlepas dari rasa trauma hebat yang dialaminya.


2.4. DAMPAK DISSOCIATIVE PERSONALITY DISORDER
  Seseorang yang mempunyai kepribadian ganda memiliki identitas pada setiap kepribadian yang dimilikinya. Setiap kepribadian dapat memiliki nama, sejarah pribadi, suara, jenis kelamin, serta karakternya masing-masing. Kepribadian-kepribadian ini bisa muncul di waktu tertentu. Ketika mereka muncul, pengidap bisa saja langsung menderita amnesia parah, sehingga ia tidak akan mengingat apa yang terjadi selama waktu ini.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penderita sering dipicu oleh trauma masa lalu. Apabila pengidap tidak bisa mengelola trauma masa lalunya, kondisi ini beresiko bertahan seumur hidup. Oleh karena itu, orang-orang dengan Dissociative Identity Disorder perlu mendapatkan perawatan untuk mengajari mereka agar dapat mengelola stress dan kecemasan yang dimilikinya.


2.5.  PENANGANAN DISSOCIATIVE PERSONALITY DISORDER
Treatment untuk penderita gangguan identitas disosiatif dapat berlangsung hingga bertahun-tahun. Beberapa jenis terapi yang disarankan bagi penderita gangguan identitas disosiatif yaitu:
·  Psikoterapi: pada orang dewasa, psikoterapi dapat berlangsung selama lima hingga tujuh tahun. Tujuan utama dari terapi adalah ‘menyatukan’ beberapa kepribadian yang ada sehingga menjadi satu kepribadian yang utuh. Psikoterapi juga membantu penderita menghadapi trauma yang memicu munculnya kepribadian lain. Tahapan yang dilakukan biasanya mempelajari kepribadian apa saja yang muncul, mengatasi trauma, dan menyatukan beberapa kepribadian yang ada menjadi satu.
·         Terapi keluarga: dilakukan untuk memberi penjelasan lebih kepada keluarga terkait gangguan identitas disosiatif. Menginformasikan keluarga, perubahan apa yang akan terjadi dan mengamati tanda-tanda atau gejala perubahan kepribadian.
·         Pengobatan: meskipun tidak ada obat khusus yang dapat menyembuhkan gangguan identitas disosiatif, tetapi gejala-gejala yang muncul seperti kecemasan berlebih dan depresi dapat diatasi dengan antidepresan.














DAFTAR PUSTAKA

https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/mengenal-gangguan-disosiatif-kepribadian-ganda/
https://www.halodoc.com/4-fakta-yang-perlu-diketahui-tentang-kepribadian-ganda
https://www.halodoc.com/kesehatan/gangguan-jiwa



Gangguan Kejiwaan Pada Manusia: Antisocial Personality Disorder / Sociopath

MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
“GANGGUAN KEJIWAAN PADA MANUSIA: ANTISOCIAL PERSONALITY DISORDER / SOCIOPATH” 










Disusun oleh :

Nama     :    Muhammad Farhansyah Ibrahim
NPM     :    14519154
Kelas     :    1PA10






FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2019



KATA PENGANTAR

Puji syukur saya sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan penulisan makalah ini sesuai yang diharapkan. Dalam penulisan makalah ini saya membahas tentang “Gangguan Kejiwaan Pada Manusia: Sociopath”.
Makalah ini dibuat dan diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Dalam proses penulisan makalah ini mengenai materi Gangguan Kejiwaan Pada Manusia, saya mengucapkan terima kasih yang mendapatkan arahan, koreksi dan saran kepada :
1.  Ibu Ratna Komala, selaku dosen mata kuliah “Ilmu Budaya Dasar”.
2.  Teman-teman mahasiswa kelas 1PA10 Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma yang  telah memberikan masukan untuk makalah ini.
Saya memahami bahwa makalah saya belum sempurna dan dibutuhkan pendalaman lebih lanjut. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan makalah ini. Saya juga berharap semoga gagasan pada makalah ini dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan kesehatan di Indonesia pada khususnya dan pembaca pada umumnya.



Depok,  November 2019



                                                                                                             (Penulis)





DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL / COVER ……………………………….................................  i
KATA PENGANTAR  …………………………...…….............................................  ii
DAFTAR ISI ………………………………................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………...................................... 1
1.1. Latar Belakang ………..…………………………………….......................... 1
1.2. Rumusan Masalah ……………………………………................................... 2
1.3. Tujuan Penulisan ……………………………………..................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ……………………………………....................................... 3
2.1. Definisi Antisocial Personality Disorder  .……..……………….………..….  3
2.2. Gejala Antisocial Personality Disorder  ……………………….……............ 4
2.3. Penyebab Antisocial Personality Disorder ....……………............................. 5
2.4. Dampak Antisocial Personality Disorder ….………………….……………. 5
2.5. Penanganan Antisocial Personality Disorder ….…………….………..……. 6
DAFTAR  PUSTAKA .................................................................................................. 8




BAB  I
PENDAHULUAN

1.1.    LATAR BELAKANG
Gangguan jiwa adalah sindrom atau pola perilaku yang secara klinis berhubungan dengan distres atau penderitaan dan menimbulkan gangguan pada satu atau lebih fungsi kehidupan manusia. Gangguan jiwa merupakan salah satu gangguan mental yang disebabkan oleh berbagai faktor yang berasal dari dalam (diri sendiri) maupun luar (lingkungan).
Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang bisa terjadi pada semua orang dan tanpa mengenal ras, budaya, umur, jenis kelamin, bahkan status ekonomi. Gangguan jiwa dapat dikenali dengan perubahan tingkah laku, pola pikir dan emosi yang berubah secara mendadak tanpa disertai alasan yang jelas. Stres yang menjadi pemicu awal terjadinya gangguan jiwa akan membuat seseorang tidak mampu beraktivitas secara normal. Jika stres ini tidak ditangani secara cepat maka akan berlanjut pada gejala gangguan kejiwaan.
Di Indonesia, pengetahuan masyarakat tentang gangguan jiwa dan kesehatan mental masih sangat dangkal dan mayoritas orang-orang hanya menyimpulkan gangguan jiwa dengan stigma sederhana, yakni gila. Padahal, gangguan jiwa sendiri bermacam-macam jenisnya, penyebabnya, dan penanganannya. Masing-masing gangguan jiwa butuh pendalaman khusus untuk dipelajari dan ditangani.
Di kesempatan kali ini, penulis akan membahas topik tentang salah satu jenis gangguan jiwa yakni Antisocial Personality Disorder atau dapat dikenal juga sebagai Sociopath.

1.2.    RUMUSAN MASALAH
  Untuk memperjelas tentang Sociopath, maka akan kita bahas mengenai:
1.   Apa pengertian Sociopath secara umum?
2.  Apakah Sociopath sama dengan Antisocial?
3.   Apa gejala-gejala dari seorang Sociopath?
4.  Apa penyebab dari Sociopath?
5.  Apa dampak dari Sociopath? 
6.  Bagaimana cara menanggulangi Sociopath? 

1.3.    TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan, yaitu:
  1. Dapat mengenali Sociopath secara mendalam.
  2.  
2. Dapat mengetahui gejala, penyebab, dan dampak dari Sociopath.
3. Dapat mengerti cara penanganan untuk seorang Sociopath.
4. Dapat memahami gangguan jiwa secara mendalam dan melek terhadap kesehatan mental orang sekitar.










BAB II
PEMBAHASAN


2.1. DEFINISI ANTISOCIAL PERSONALITY DISORDER
Sosiopat atau sociopath adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki gangguan kepribadian antisosial (ASPD). Seseorang dengan gangguan ini sulit memahami perasaan orang lain.

Sosiopat sering melanggar peraturan dan membuat keputusan impulsif tanpa merasa bersalah atas kerugian yang ditimbulkan. Mereka menggunakan ‘permainan pikiran’ untuk mengontrol orang lain, baik orang dekatnya ataupun orang asing yang baru dikenalnya karena mereka dapat dianggap sebagai sosok yang menawan atau karismatik.

Sosiopat sendiri seringkali disamakan dengan psikopat. Walau sifat sosiopat dan psikopat memiliki kesamaan tetapi keduanya memiliki berbagai perbedaan. Jika sosiopat cenderung melakukan hal-hal yang berbahaya tetapi masih dalam kategori ringan, sementara psikopat dapat membuat orang lain benar-benar berada di posisi berbahaya.

Penyebab sosiopat belum diketahui secara pasti, tetapi diduga faktor genetik dan trauma yang dialami ketika anak-anak dapat menjadi faktor penyebabnya. Kecanduan terhadap alkohol, narkoba, ataupun zat lain juga diketahui lebih rentan mengalami gangguan kepribadian antisosial (ASPD) ini.



2.2.  GEJALA ANTISOCIAL PERSONALITY DISORDER
Tanda-tanda seseorang memiliki gejala sosiopat di antaranya:
·         Tidak menghormati norma atau hukum sosial, mereka akan melanggar hukum atau melampaui batas sosial secara konsisten
·         Melakukan kebohongan, menipu, menggunakan identitas palsu, dan berpura-pura menjadi orang lain demi keuntungan pribadi
·         Tidak membuat rencana jangka panjang dan sering berperilaku impulsif tanpa memikirkan konsekuensinya
·         Menunjukkan perilaku agresif, suka bertengkar, atau secara fisik membahayakan orang lain dan dilakukan secara konsisten
·         Tidak mempertimbangkan keselamatan diri sendiri maupun orang lain
·         Tidak melakukan tanggung jawab secara pribadi maupun profesional secara berulang kali, seperti terlambat bekerja atau tidak membayar tagihan tepat waktu
·         Tidak merasa bersalah atau menyesal setelah melukai atau menyakiti orang lain

Gejala sosiopat lainnya dapat meliputi:
·         Bersikap ‘dingin’ dengan tidak menunjukkan emosi atau peduli dengan orang lain
·         Menggunakan humor, kecerdasaan ataupun karisma yang dimiliki untuk memanipulasi orang lain
·         Memiliki rasa superioritas dan opini yang kuat
·         Tidak belajar dari kesalahan
·         Tidak mampu menjaga hubungan yang positif dengan orang lain
·         Mencoba mengendalikan orang lain dengan cara mengintimidasi atau mengancam mereka
·         Sering mengalami masalah hukum atau melakukan tindak pidana
·         Mengambil risiko dengan mengorbankan diri sendiri ataupun orang lain
·         Mengancam akan melakukan bunuh diri tanpa pernah melakukannya
·         Mengalami kecanduan narkoba, alkohol, ataupun zat lainnya

2.3.  PENYEBAB ANTISOCIAL PERSONALITY DISORDER
Penyebab sosiopat belum diketahui secara pasti, tetapi diduga faktor genetik dan trauma yang dialami ketika anak-anak dapat menjadi faktor penyebabnya, seperti pelecehan seksual di masa lalu, atau riwayat kekerasan fisik dan psikis dari orang-orang terdekat seperti keluarga. Kecanduan terhadap alkohol, narkoba, ataupun zat lain juga diketahui lebih rentan mengalami gangguan kepribadian antisosial (ASPD) ini.

2.4. DAMPAK ANTISOCIAL PERSONALITY DISORDER
  Seorang sosiopat dapat merugikan orang lain apabila mereka mulai manipulatif terhadap sekitarnya. Mereka dapat merugikan yang lain dengan niat menguntungkan diri mereka sendiri. Efek negatif pun dapat menghampiri baik diri sosiopat dan sekitarnya. Beberapa dampak negatif dari sosiopat yaitu:
·         Buruknya hubungan dengan orang di sekitarnya.
·          
·         Kelalaian dalam melaksanakan tanggung jawab.
·          
·         Kerugian yang didapat akibat dimanfaatkan oleh seorang sosiopat, bisa kerugian dari segi tenaga, waktu, materi bahkan kesehatan atau keselamatan.
·          
·         Butuh penganan yang sangat membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya.
·          

2.5.  PENANGANAN ANTISOCIAL PERSONALITY DISORDER
  Belum ada cara untuk mencegah terjadinya gangguan kepribadian antisosial (ASPD) yang dapat menyebabkan seseorang menjadi sosiopat. Namun idealnya, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk perilaku anak.

Salah satu caranya adalah dengan menciptakan suasana penuh kasih sayang, menghindari segala bentuk kekerasan, menumbuhkan kondisi yang menyenangkan sehingga baik untuk kesehatan mental anak-anak. Hal ini dapat mengurangi resiko seseorang terkena sosiopat dari faktor genetik.

Umumnya seseorang sosiopat dengan gangguan kepribadian antisosial (ASPD) tidak berpikir bahwa mereka memiliki masalah terhadap kepribadiannya, tetapi jika seseorang mengalami gejala atau menunjukkan tanda-tanda sosiopat, maka disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan diagnosa dan perawatan yang tepat.

Pada dasarnya, sosiopat tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat diobati melalui terapi yang berfokus pada pembatasan perilaku destruktif dengan mengubahnya menjadi perilaku konstruktif. Terapi yang dilakukan pun merupakan bentuk perawatan jangka panjang.

  Beberapa pengobatan sosiopat yang dapat dilakukan antara lain:

·         Psikoterapi
·          
Psikoterapi yang dimaksudkan adalah berbicara dengan konselor atau terapis mengenai pikiran dan perasaan yang dapat memperburuk perilaku ASPD. Hal ini termasuk memberikan terapi dalam mengatasi kemarahan, perilaku kekerasan serta kecanduan narkoba dan alkohol.

·         Terapi perilaku kognitif (CBT)
·          
Terapi ini dapat membantu seorang sosiopat untuk berpikir lebih hati-hati mengenai tindakan dan tanggapannya terhadap seseorang ataupun situasi tertentu. CBT tidak dapat menyembuhkan ASPD tetapi dapat membantu mengembangkan perilaku yang positif tapi tidak berbahaya. Terapi ini juga dapat membantu seorang sosiopat untuk menerima keadaan dan kelainan yang dimilikinya dan mendorong mereka untuk proaktif dalam menangani perilaku yang terjadi pada dirinya.

 Tidak ada obat khusus dalam mengobati gangguan ini tetapi mungkin saja Anda menerima obat untuk gangguan mental yang terkait seperti obat untuk mengatasi kecemasan, depresi, ataupun perilaku agresif. Obat clozapine (Clozaril) telah menunjukkan adanya manfaat dalam pengobatan ASPD untuk pria.

 Bagi Anda yang memiliki pasangan sosiopat, jika mereka menyakiti atau melukai Anda, salah satu cara yang paling sehat dalam mengatasi hal tersebut adalah menghapus dan melupakan mereka dalam hidup Anda. Kecuali jika Anda tetap ingin berhubungan dengannya, konseling pernikahan atau terapi pasangan dapat dilakukan sehingga dapat mengembangkan hubungan yang positif di antaranya.

Selain itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga hubungan dengan sosiopat:
·         Mengakui bahwa mereka tidak dapat memahami emosi Anda sepenuhnya
·          
·         Menjelaskan bagaimana perilakunya dapat mempengaruhi orang lain dan menyebabkan rusaknya hubungan
·          
·         Membuat batasan yang jelas untuk diri sendiri dalam berhubungan dengan mereka
·          
·         Menawarkan konsekuensi spesifik bagi perilaku yang berbahaya
·          

DAFTAR PUSTAKA

https://www.halodoc.com/kesehatan/gangguan-jiwa
https://www.healthline.com/health/mental-health/sociopath#diagnosis-and-symptoms
https://www.honestdocs.id/sosiopat
https://doktersehat.com/sosiopat/

Senyawa Terbaru yang Berguna bagi Kehidupan Manusia

TUGAS MATEMATIKA DAN ILMU ALAMIAH DASAR “SENYAWA TERBARU YANG BERGUNA BAGI KEHIDUPAN MANUSIA” Website Gunadarma Disusun ...