Wednesday, 8 January 2020

Analisis Tentang Masalah SARA



MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
“ANALISIS TENTANG MASALAH SARA” 








Disusun oleh :

Nama: Muhammad Farhansyah Ibrahim
NPM: 14519154
Kelas: 1PA10







 FAKULTAS PSIKOLOGI
 UNIVERSITAS GUNADARMA
 2020





KATA PENGANTAR

Puji syukur saya sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan penulisan makalah ini sesuai yang diharapkan. Dalam penulisan makalah ini saya membahas tentang “Analisis Tentang Masalah SARA”.
Makalah ini dibuat dan diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Dalam proses penulisan makalah ini mengenai materi Gangguan Kejiwaan Pada Manusia, saya mengucapkan terima kasih yang mendapatkan arahan, koreksi dan saran kepada :
1.  Ibu Ratna Komala, selaku dosen mata kuliah “Ilmu Budaya Dasar”.
2.  Teman-teman mahasiswa kelas 1PA10 Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma yang  telah memberikan masukan untuk makalah ini.
Saya memahami bahwa makalah saya belum sempurna dan dibutuhkan pendalaman lebih lanjut. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan makalah ini. Saya juga berharap semoga gagasan pada makalah ini dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan kesehatan di Indonesia pada khususnya dan pembaca pada umumnya.



Depok,  Januari 2020



                                                                                                             (Penulis)








DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL / COVER ……………………………….................................  i
KATA PENGANTAR  …………………………...…….............................................  ii
DAFTAR ISI ………………………………................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………...................................... 1
1.1. Latar Belakang ………..…………………………………….......................... 1
1.2. Rumusan Masalah ……………………………………................................... 2
1.3. Tujuan Penulisan ……………………………………..................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ……………………………………....................................... 3
2.1. Penyebab SARA ....……………..................................................................... 5
2.2. Dampak SARA ……....….………………….………......…....…..........……. 7
2.3. Alternatif Penanggulangan SARA ……….………..…………….……….…. 8
DAFTAR  PUSTAKA .................................................................................................. 10






BAB  I
PENDAHULUAN

1.1.    LATAR BELAKANG
SARA adalah akronim dari Suku, Agama, Ras dan Antargolongan. SARA adalah pandangan ataupun tindakan yang didasari dengan pikiran sentimen mengenai identitas diri yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan/kesukuan dan golongan. Yang digolongkan sebagai sebuah tindakan SARA adalah segala macam bentuk tindakan baik itu verbal maupun nonverbal yang didasarkan pada pandangan sentimen tentang identitas diri atau golongan. SARA adalah isu yang berpotensi memecah belah masyarakat yang bersifat majemuk seperti di Indonesia.
SARA dapat digolongkan menjadi tiga kategori, yakni:
·         Individual. Di mana tindakan SARA dilakukan oleh individu atau golongan dengan tindakan yang bersifat menyerang, melecehkan, mendiskriminasi, atau menghina golongan lainnya.
·         Institusional. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan oleh institusi atau pemerintah melalui aturan atau kebijakan yang bersifat diskriminatif bagi suatu golongan.
·         Kultural. SARA yang dikategorikan di sini adalah tindakan penyebaran tradisi atau ide-ide yang bersifat diskriminatif antar golongan.
Di Indonesia, isu SARA selalu menjadi hal yang sensitif di Indonesia. Disisi lain isu SARA terkadang mendatangkan dampak negatif dan bahkan berdampak pada terjadinya pertentangan dan konflik yang berkepanjangan yang justru merugikan dan  menghambat laju pembangunan negara. Secara khusus terdapatnya perbedaan suku di Indonesia disebabkan oleh karena Indonesia adalah merupakan negara yang terdiri dari beberapa pulau yang memiliki karakter masyarakat, kebudayaan, kebiasaan, adat istiadat dan kepercayaan yang berbeda. Kemajemukan tersebut yang menjadi ciri khas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam konteks wawasan Nusantara keterpaduan dan persatuan yang terjalin menjadi wawasan nusantara mejadi kebanggaan tersendiri. Di Indonesia terdapat Suku-suku diantaranya Betawi, Makassar, Manado, Jawa, Sunda, Batak, Padang, Bali dan sebagainya.
Di kesempatan kali ini, penulis akan membahas secara singkat tentang isu SARA.


1.2.    RUMUSAN MASALAH
  Untuk memperjelas tentang Schizophrenia, maka akan kita bahas mengenai:
1.   Apa penyebab isu SARA?
2.   Apa dampak dari permasalahan SARA di Indonesia?
3.  Bagaimana cara menanggulangi SARA di Indonesia? 

1.3.    TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan, yaitu:
1.     Dapat mengetahui penyebab SARA dan menghindari kesalahan yang sama.
2. Dapat mengetahui dampak-dampak dari isu SARA selama ini.
3.  Dapat memahami penanggulangan isu SARA agar tidak terjadi lagi konflik-konflik SARA.

BAB II
PEMBAHASAN


2.1.  PENYEBAB SARA
Jika diperhatikan saat ini, sosial media bisa disebut lebih ramai daripada interaksi langsung dalam kehidupan masyarakat. Orang yang dalam kehidupan sehari-hari terlihat pendiam bisa menjadi sangat garang di sosial media. Tidak jarang yang kecanduan atau berlebihan menggunakan media sosial dan mengakibatkan tugas-tugas utama terabaikan, seperti belajar atau bekerja. Sosial media menjadi tempat perang pendapat yang cenderung ke arah yang negatif. Perdebatan yang muncul jauh dari keinginan untuk mencari solusi, hanya untuk menyudutkan atau menghakimi atau bahkan menghinakan orang lain. Penyebab isu SARA yang kerap kali terjadi ialah:

·         Menempatkan Bhineka Tunggal Ika Menjadi Simbol Suku dan Golongan
Bhinneka Tunggal Ika seharusnya menjadi simbol pemersatu bangsa yang didesain sebagai perekat keberagaman suku, agama, ras serta golongan yang ada di Indonesia. Namun akhir-akhir ini, Bhinneka Tunggal Ika malah dijadikan simbol keunggulan suku dan golongan.
Suatu suku atau golongan kerap mendeklarasikan ke-Bhineka-annya seakan-akan mereka lah golongan yang paling menjungjung dan melaksanakan ke-Bhineka-an dan menganggap golongan lain (yang berlawanan) sebagai perusak ke-Bhineka-an.
Hal ini akan menimbulkan pembelaan masing-masing suku atau golongan yang berujung pada pembenaran buta atas suku dan golongannya masing-masing. Faktanya, ke-Bhineka-an akan terjaga jika suatu suku atau golongan tidak menempatkan kedudukannya lebih tinggi dari golongan yang lain.

·         Tidak Menghormati Ajaran Suatu Agama Dari Sudut Pandang Agama Lain
Memeluk agama adalah hak dasar manusia, yang memberikan mereka pilihan dalam menjalani kehidupan, cara untuk menyembah Tuhan dan menjalankan perintah-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Setiap agama memiliki dasar keyakinan dan pedoman masing-masing yang sudah pasti berbeda dengan keyakinan dan pedoman agama yang lain.
Isu tentang ajaran agama akan menjadi perdebatan tak berujung jika setiap orang menginginkan pendapat orang lain sama dengan pendapatnya padahal agamanya berbeda. Umat agama lain harusnya tidak ikut berkomentar atau berdebat tentang hal-hal keagamaan tersebut, karena dapat dipastikan keyakinannya pasti berbeda, begitupun sebaliknya.

·         Pendapat Tanpa Ilmu Yang Memadai
Orang-orang yang memiliki keyakinan sama, suku yang sama, ras yang sama, juga memiliki kecenderungan memunculkan perdebatan yang tak berujung, bahkan saling menghinakan satu sama lain. Hal ini timbul karena beberapa orang berpendapat tanpa ilmu yang memadai. Sekedar mengetahui permasalahan tapi berpendapat seakan-akan mengetahui ilmunya dengan pasti, padahal pengetahuannya cetek.

·         Membaca Judul Kemudian Membuat Kesimpulan
Huru hara dunia maya didominasi oleh orang-orang seperti ini, membaca judul kemudian membuat kesimpulan. Dengan perilaku seperti inilah hoax memenuhi time line sosial media.

2.2.  DAMPAK SARA
Dampak dari tindakan SARA adalah konflik antar golongan yang dapat menimbulkan kebencian dan berujung pada perpecahan. Contohnya pada kasus konflik Tragedi Sampit yang terjadi pada 2001 silam. Konflik ini terjadi antara Suku Dayak dan Suku Madura di mana SARA adalah biang dari masalahnya. Warga Madura dinilai gagal dalam beradaptasi dengan Warga Dayak kemudian muncul lah diskriminasi antar golongan hingga pecah konflik dan akhirnya memakan korban hingga 500 orang.
Contoh lain dari kasus SARA adalah Kerusuhan Mei 1998. Kerusuhan ini merupakan kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa yang terjadi di Indonesia pada 13 Mei-15 Mei 1998, khususnya di Ibu Kota Jakarta dan juga terjadi di beberapa daerah lain di Indonesia. Banyak sasaran perusakan adalah milik etnis Tionghoa. Lebih jauh, juga ditemukan sejumlah kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan Tionghoa.
Singkatnya, dampak dari isu SARA adalah:
1.) Hubungan antar masyarakat akan menjadi tidak harmonis.
2.) Masyarakat menjadi mudah diadu domba.
3.) Terjadinya disintegrasi masyarakat
4.) Masyarakat akan mudah terpicu konflik yang berhubungan dengan SARA.
5.) Terjadinya tindak diskriminatif di suku golongan tertentu.




2.3.  ALTERNATIF PENANGGULANGAN SARA
Guna menghindari konflik antar sesama warga Negara Indonesia, ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya mengatasi konflik SARA.

·         Mengendalikan diri dan emosi
Sebagai manusia biasa yang memiliki perasaan, ada kalanya kita tidak dapat memendung suatu cobaan atau godaan dari makhluk ciptaan Tuhan lain yang mengundang kita untuk berbuat yang tidak baik. Sebaiknya kita dapat mengendalikan diri kita dari keinginan untuk melakukan hal tidak terpuji karena banyak kerugiannya dibandingkan keuntungannya.

·         Tidak menyinggung/menyakiti hati orang lain.
Apabila kita tidak ingin diperlakukan tidak baik oleh orang lain maka kita terlebih dahulu tidak melakukan hal yang negatif kepada orang lain. Memanggil atau menghardik orang dengan kata-kata yang menyinggung SARA sangat besar dampaknya untuk memicu terjadinya konflik SARA.

·         Hilangkan prasangka buruk kepada orang lain.
Berprasangka buruk kepada orang lain merupakan penyakit hati yang harus dihilangkan. Walaupun dugaan itu benar adanya, kita tetap tidak boleh berprasangka buruk kepada orang lain terlebih lagi apabila prasangka kita itu tidak terbukti dan hanya rekaan kita saja tanpa adanya bukti. Selain menjadikannya suatu jurang pemisah hubungan, juga dapat menjadi pemercik api perkelahian antara kita dengan orang lain.

·         Saling menghormati dan menghargai.
Jalan satu-satunya agar terjalin suatu hubungan yang harmonis dan menjadi jembatan dari seluruh perbedaan yang ada adalah rasa saling menghormati dan menghargai diantara sesama manusia. Dengan ini kita merasa manjadi satu bagian yang berharga diantara lainnya, dan merasa setara tanpa ada perbedaan.

·         Menjalin hubungan dengan melakukan kegiatan positif bersama-sama.
Suatu hubungan sosial berarti suatu interaksi dari beberapa makhluk sosial yang terjadi di suatu lingkungan. Untuk memelihara suatu hubungan yang sehat maka diperlukan interaksi yang harmonis pula yaitu melakukan suatu kegiatan secara bersama-sama yang melibatkan semua pihak yang dilakukan dengan bahagia.

Sebagai warga Negara dari bangsa yang berideologi Pancasila, kita harus menjaga dan menerapkan esensi dari kelima sila yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa.




DAFTAR PUSTAKA

Liputan6.com. (2019, 12 Januari). SARA adalah Isu Sensitif, Berikut Arti dan Penjelasannya. Diakses pada 9 Januari 2020, dari https://www.liputan6.com/citizen6/read/3869107/sara-adalah-isu-sensitif-berikut-arti-dan-penjelasannya
Ayuknowledge.blogspot.com. (2015, 11 Maret). Contoh Makalah SARA. Diakses pada 9 Januari 2020, dari http://ayuknowledge.blogspot.com/2015/03/contoh-makalah-sara.html
Auliamaharanicom.wordpress.com. (2017, 26 Mei). Penyebab Isu Suku Agama Ras dan Antar Golongan SARA Menjadi Simbol Sosial Media. Diakses pada 9 Januari 2020, dari https://auliamaharanicom.wordpress.com/2017/05/26/penyebab-isu-suku-agama-ras-dan-antar-golongan-sara-menjadi-simbol-sosial-media/
PKBTv.com. (2017, 23 Januari). Tips Cegah Konflik SARA, Upaya Mengatasinya. Diakses pada 9 Januari 2020, dari https://www.pkbtv.com/2017/01/23/tips-cegah-konflik-sara-upaya-mengatasinya/

Biografi Muhammad Farhansyah Ibrahim


KARYA BIOGRAFI ILMU BUDAYA DASAR
“MUHAMMAD FARHANSYAH IBRAHIM”




       








Disusun oleh :

                        Nama       :    Muhammad Farhansyah Ibrahim
                        NPM       :    14519154
                        Kelas       :    1PA10












FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2020




KATA PENGANTAR

Puji syukur saya sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan penulisan karya ini dan penulis selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam penulisan karya ini saya membahas tentang biografi diri saya sendiri.
Karya ini dibuat dan diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Dalam proses penulisan biografi ini, saya mengucapkan terima kasih yang mendapatkan arahan, koreksi dan saran kepada Ibu Ratna Komala, selaku dosen mata kuliah “Ilmu Budaya Dasar”.
Saya memahami bahwa karya saya belum sempurna dan perlu pendalaman lebih lanjut. Oleh karena itu, saya mengharapkan pendapat dari pembaca dari perspektif mereka. Saya juga berharap semoga penulisan biografi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.



Depok, Januari 2020



                                                                                                             (Penulis)






















DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL / COVER …………………………………….................................  i
KATA PENGANTAR  …………………………………….............................................  ii
DAFTAR ISI ……………………………………............................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ……………………..……………........................................... 4
1.1. Latar Belakang ………..………………..…………………................................ 4
1.2. Tujuan Penulisan ……………………………………........................................ 4
BAB II PEMBAHASAN …………………………………….......................................... 5
2.1. Senang/Bahagia  …….…………………..………......…….…………………….. 5
2.2. Sedih/Menderita …...………………………………......................................... 6
2.3. Marah ………...…………………………………............................................. 6
2.4. Cinta ………………………………………………..…………………………… 6
2.5. Harapan ……………………………………………..…………………………... 6
2.6. Cita-cita …………………………………………….…………………………... 7










BAB  I
PENDAHULUAN

1.1.      LATAR BELAKANG
            Biografi adalah suatu tulisan yang menjelaskan atau menerangkan tentang kisah dan kehidupan seseorang atau lebih tepatnya adalah riwayat hidup seseorang. Kata “Biografi” berasal dari bahasa Yunani,  yaitu “Bios” yang mana berarti hidup dan “Graphien”  yang mempunyai arti tulisan. jadi secara singkat pengertian Biografi adalah tulisan yang membahas tentang kehidupan seseorang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun, biografi adalah riwayat hidup (seseorang) yang ditulis oleh orang lain. Namun, untuk memenuhi tugas Ilmu Budaya Dasar bab ke-9 (Bulan ke-4) ini, saya akan membuat biografi diri saya sendiri dari pengalaman dan sudut pandang saya pribadi.

1.2.   TUJUAN PENULISAN
                              1. Pemenuhan tugas Ilmu Budaya Dasar.
                              2. Menuliskan perjalanan hidup saya dalam sebuah biografi.
                              3. Menceritakan berbagai perasaan yang saya alami berdasarkan perkembangan usia.













BAB II
PEMBAHASAN


2.1. SENANG/BAHAGIA
            Perasaan senang kerap saya rasakan dari kecil hingga sekarang. Namun, saya tak bisa mengatakan saya bahagia/pernah bahagia, karena saya sendiri merasa arti “bahagia” itu sendiri merupakan hal yang sulit diraih. Merasa bahagia adalah satu hal langka yang sebagian orang hanya rasakan sewaktu masa kanak-kanak, sedangkan merasa senang adalah perasaan yang sering didapat ketika mengalami suatu pengalaman yang baik atau positif.
Saya senang ketika saya mendapatkan hal positif yang bisa saya banggakan. Saya senang ketika saya mendapatkan mainan baru, teman baru, tantangan baru, dan pengalaman seru yang baru. Saya senang ketika mendapatkan ranking 2 di kelas 1 SD. Saya senang ketika bermain game bola di Playstation saya. Saya senang ketika saya diajak orang tua keluar di akhir pekan dan beranjak makan enak di restoran. Saya senang ketika dapat membeli barang yang saya impikan memakai uang tabungan saya sendiri. Saya senang ketika saya dapat mengerjakan sesuatu yang saya sukai dengan baik dan benar. Saya senang ketika saya terpilih menjadi kepala acara dari suatu organisasi milik saya dan teman-teman saya dan acara tersebut mendapatkan keuntungan yang cukup banyak dan dapat terbilang sukses. Saya senang ketika dapat meluangkan waktu saya dengan orang-orang yang saya sayangi dan orang-orang yang tepat (meluangkan waktu dengan mereka merupakan hal yang menyenangkan/bermanfaat). Saya senang ketika saya dan teman-teman saya berhasil membuka usaha sampingan dengan uang yang kami kumpulkan.
Semua hal dapat dengan mudah dianggap menyenangkan ketika kita masih anak-anak. Ketika beranjak dewasa, saya kerap lupa untuk merasakan senang. Hal-hal menyenangkan yang dulu saya suka lakukan seringkali menjadi biasa saja di mata saya. Saya menjadi kurang bisa melihat hal-hal kecil yang seharusnya memuaskan saya, yang mana membuat saya tidak mudah puas. Saya sedang belajar agar menjadi pribadi yang bersyukur atas hal-hal kecil yang saya miliki/dapat agar perlahan dapat merasakan kebahagiaan.

2.2. SEDIH/MENDERITA
Sedih merupakan perasaan yang sangat familiar dalam hidup saya. Saya merasakan sedih sejak kecil. Karakter dan kepribadian saya di saat ini merupakan bentukan dari masa kecil saya. Saya kerap kali tidak mengetahui alasan mengapa saya tiba-tiba sedih, seakan-akan saya sedih walaupun tidak ada hal apapun yang terjadi.
Puncak kesedihan saya adalah di tahun 2016, dimana saya pernah hampir mengakhiri hidup saya dan pada akhirnya saya pergi ke psikolog. Saat itu kedua orang tua saya memberikan dukungan mereka ke saya. Setelah beberapa minggu konseling ke psikolog saya merasa lebih baik tanpa mengonsumsi obat-obatan yang dianjurkan oleh pihak rumah sakit. Pengalaman ini membuat saya melek dan peduli terhadap kesehatan mental saya dan orang-orang sekitar, dimana kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Meskipun begitu, saya tetap tidak pernah terhindar dari perasaan sedih, baik karena pengaruh lingkungan maupun dari saya sendiri. Saya masih merasakan fase depresi walaupun tidak separah dan sesering dahulu kala. Tak jarang mood swing saya memberikan efek negatif ke dunia luar atau ke aktivitas saya. Untuk mengatasinya, kadang saya memilih untuk menikmati waktu saya disaat sendiri (self-love) ataupun meluangkannya dengan teman-teman yang membuat saya senang. Terkadang, saya merasa beruntung mempunyai lingkungan yang cukup baik dan bisa membuat saya bertahan hidup sampai sekarang.
Kesedihan yang saya alami selama ini masih saya rasakan hingga detik ini. Campur aduk rasa marah, kecewa, dan khawatir akan dunia sekitar saya. Namun dibalik kesedihan selama hidup saya, saya juga mendapatkan banyak pengalaman dan ilham yang membuat saya menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih kuat dibandingkan sebelumnya.

2.3. MARAH
Saya sering bingung dengan rasa marah yang saya punya. Saya kadang tidak bisa membedakan mana marah, sedih, kesal, kecewa, atau benci. Saya termasuk orang yang jarang marah, namun dampak negatifnya yaitu saya bisa meledak seperti bom waktu apabila perasaan saya terlalu sering saya sembunyikan atau tidak saya ekspreksikan dalam suatu waktu, dan hal itu tidak baik.
Pernah saya meledakkan amarah saya pada orang yang salah dan hal itu menyebabkan hubungan kami menjadi renggang. Semenjak itu saya menyadari bahwa hal tersebut salah dan tidak pas apabila terlalu sering memendam amarah dan meledakkannya ke orang yang salah terutama yang kita sayangi.

2.4. CINTA
            Saya sering merasakan cinta sepanjang hidup saya. Dari sejak saya duduk dibangku SMP, saya sudah banyak merasakan suka dengan lawan jenis. Tapi sejujurnya, saya tidak terlalu suka untuk berpacaran, karena saya tidak terbiasa dengan ketergantungan akan satu sama lain. Seumur hidup saya, saya hanya berpacaran 2 kali. Selebihnya, perasaan yang saya punya hanya saya pendam saja.
            Namun di tahun 2019, saya mulai membuka diri untuk mencoba berpengalaman banyak hal dalam hubungan saya, seperti jalan-jalan ke tempat yang jauh, mengutarakan pendapat yang berbeda, mengatakan rahasia yang tidak pernah saya bicarakan ke orang lain, memberikan hadiah yang istimewa, dan banyak waktu keliling kota yang saya luangkan berdua dengan pacar saya. Semua terasa cukup menyenangkan dan sangat memberikan banyak pengalaman menarik. Bagaimanapun juga, saya ingin mempunyai hubungan yang saling membangun satu sama lain.

2.5. HARAPAN
            Saya memiliki banyak harapan dalam hidup. Salah satunya adalah bisa untuk tinggal di luar negeri dalam beberapa kurun waktu. Bukan berarti saya tidak mencintai negara saya, namun saya ingin mempunyai perspektif yang berbeda seperti hampir semua warga Indonesia di luar negeri. Saya ingin mempunyai wawasan lebih dan kebijaksanaan yang dapat membantu Indonesia menjadi negara yang maju. Saya berharap negara saya bisa maju dalam berbagai bidang, seperti maju dan berubahnya mentalitas masyarakat Indonesia. Bersihnya negara ini dari korupsi dan nepotisme, menjadi negara yang lebih hijau, menjadikan kota DKI Jakarta (tempat saya tinggal) bebas dari bencana tahunan seperti banjir dan menjadi kota yang memiliki ekonomi maju, mereboisasi Kalimantan agar kembali menjadi pulau hijau dan menjadi ibu kota negara yang bersih, sehat, modern dan maju bagi rakyatnya.
Saya berharap orang-orang lebih peduli lagi pada sesama manusia, pada hewan, tumbuhan, dan juga pada lingkungan, seperti:
·         Penggunaan plastik dan bahan-bahan lainnya yang tidak dapat didaur ulang segera dihentikan karena akan merusak alam semesta.
·         Penghijauan yang harus dilaksanakan di seluruh penjuru dunia.
·         Pembangunan karakter untuk anak-anak generasi selanjutnya (setelah generasi saya) guna merubah dunia menjadi dunia yang lebih aman dan lebih baik.
·         Pemeliharaan hewan dan tumbuhan yang langka agar tidak punah spesiesnya.

2.6. CITA-CITA
            Saat kecil, saya mempunyai cita-cita sebagai dokter. Cita-cita tersebut bertahan sampai SMA kelas 10 karena saya tidak tahu apa yang saya inginkan di masa depan pada saat itu. Menjadi dokter adalah keinginan dari kecil karena saya beranggapan dokter adalah pekerjaan mulia yang mana bisa menyelamatkan hidup seseorang.
            Tetapi sejak beberapa tahun terakhir, saya menginginkan untuk menjadi sutradara dan penulis dari film yang saya akan buat. Telah beberapa tahun saya mencintai dunia film dan saya menginginkan untuk menulis cerita saya sendiri. Baik menjadi penulis buku fiksi maupun penulis skenario, saya menginginkan cerita saya untuk didengar dunia.
            Saya bermimpi bahwa karya saya akan dikenang dalam sejarah dan bermanfaat bagi banyak orang bahkan dunia. Dengan jurusan yang saya ambil sekarang, yaitu Psikologi, saya ingin memahami cara berpikir manusia seutuhnya supaya kelak saya akan bisa menggapai mimpi saya. Apabila tidak bisa terjun langsung ke dunia tersebut, maka saya akan menjadikan cita-cita saya sebagai pekerjaan sambilan dimana saya akan menjalani kerja/aktivitas yang terfokus pada pendidikan yang saya ambil saat ini.

Senyawa Terbaru yang Berguna bagi Kehidupan Manusia

TUGAS MATEMATIKA DAN ILMU ALAMIAH DASAR “SENYAWA TERBARU YANG BERGUNA BAGI KEHIDUPAN MANUSIA” Website Gunadarma Disusun ...