TUGAS
MATEMATIKA DAN ILMU ALAMIAH DASAR
“EFEK
RUMAH KACA”
Disusun oleh:
Muhammad Farhansyah
Ibrahim (14519154)
Kelas: 1PA10
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2020
Rumah kaca merupakan
suatu bangunan berbentuk rumah yang keseluruhannya terbuat dari material
kaca. Rumah kaca dipakai sebagai tempat bercocok tanam
sayuran, buah-buahan dan bahkan bunga atau tanaman lainnya. Biasanya, rumah
kaca digunakan oleh petani-petani di negara yang memiliki 4 musim (di
Indonesia, karena hanya memiliki 2 musim, maka rumah kaca jarang digunakan). Suhu di dalam rumah
kaca akan terasa hangat walaupun saat itu saat musim dingin. Rumah kaca bekerja
dengan menangkap cahaya matahari dan panas dari sinar matahari terperangkap di
dalam bangunan sehingga udara menjadi tetap hangat. Jadi, pada siang hari, suhu
di dalam rumah kaca menjadi semakin hangat dan pada malam hari suhunya juga
tetap hangat.
Efek
rumah kaca adalah istilah
yang digunakan untuk menggambarkan bumi memiliki efek seperti rumah kaca diatas
dimana panas matahari terperangkap oleh atmosfer bumi. Efek rumah kaca, yang
pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada tahun 1824, merupakan proses
pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama planet atau satelit) yang
disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya. Mars, Venus, dan benda langit yang memiliki atmosfer
lainnya (seperti satelit alami Saturnus, Titan) memiliki efek rumah kaca.
Gas-gas
di atmosfer seperti karbon dioksida (
)
dapat menahan panas matahari sehingga panas matahari terperangkap di dalam
atmosfer bumi. Normalnya, pada siang hari matahari menyinari bumi sehingga
permukaan bumi menjadi hangat, dan pada malam hari permukaan bumi mendingin.
Akan tetapi, akibat adanya efek rumah kaca, sebagian panas yang harusnya
dipantulkan permukaan bumi diperangkap oleh gas-gas rumah kaca di atmosfer.
Inilah mengapa bumi menjadi semakin hangat dari tahun-ketahun.
Efek
gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, yang diyakini menjadi penyebab pemanasan
global, mencapai rekor tertinggi pada 2018. Menurut laporan lembaga Greenhouse Gas Bulletin, gas
rumah kaca yang terkonsentrasi di atmosfir pada 2018 mencapai 407,8 part per
million (ppm), meningkat dari tahun sebelumnya yang cuma 405.5 ppm. Jumlah
peningkatan itu, menurut mereka, di atas rata-rata yang terjadi dalam satu
dekade terakhir.
Untuk
diketahui GRK adalah gas di atmosfer yang memiliki fungsi seperti panel-panel
kaca di rumah kaca yang bertugas menangkap energi panas matahari agar tidak
dilepas seluruhnya. Tanpa gas-gas ini, panas akan hilang ke angkasa dan
temperatur rata-rata bumi dapat menjadi 60 derajat farenheit atau (33 derajat
celsius) lebih dingin.
GRK dapat ditemukan di atmosfer
mulai dari permukaan bumi sampai ketinggian 15 km. Lapisan gas rumah kaca
sendiri terbentuk di ketinggian 6,2km - 15 km. GRK yang berdampak terbesar
antara lain Karbon dioksida (CO2), Nitro Oksida (NOx), Sulfur Oksida (Sox),
Metana (CH4), Chloroflurocarbon (CFC), dan Hydrofluorocarbon (HFC).
Jika konsentrasi gas-gas rumah kaca makin meningkat di atmosfer, maka
efek rumah kaca akan semakin besar. Berikut ini adalah penyebab-penyebab makin
tingginya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer:
·
Penebangan dan pembakaran hutan.
·
Penggunaan bahan bakar fosil.
·
Pencemaran laut.
·
Industri pertanian.
·
Limbah industri dan tambang industri seperti
pabrik semen, pabrik pupuk, dan penambangan batu baru serta minyak bumi.
·
Limbah rumah tangga.
·
Industri peternakan.
Jika efek rumah kaca
dibiarkan, maka bumi akan menjadi semakin panas. Memanasnya bumi dapat
mencairkan es yang ada di kutub utara maupun selatan. Jika es di kutub mencair,
maka permukaan air laut akan semakin tinggi yang tentu akan berdampak buruk
pada seluruh wilayah di dunia. Berikut ini dipaparkan dampak efek rumah kaca
secara lebih detail:
·
Pemanasan global.
·
Mencairnya es di kutub.
·
Meningkatnya ketinggian air laut.
·
Laut menjadi semakin asam.
·
Berkurangnya lapisan ozon.
DAFTAR PUSTAKA

No comments:
Post a Comment