Monday, 11 November 2019

Mengupas Upacara Saraswati Adat Bali

MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
“MENGUPAS UPACARA SARASWATI ADAT BALI” 



Disusun oleh :
Nama: Muhammad Farhansyah Ibrahim
NPM: 14519154
Kelas: 1PA10 





 FAKULTAS PSIKOLOGI
 UNIVERSITAS GUNADARMA
 2019
























KATA PENGANTAR

Puji syukur saya sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan penulisan makalah ini sesuai yang diharapkan. Dalam penulisan makalah ini saya membahas tentang “Mengupas Upacara Saraswati Adat Bali”.
Makalah ini dibuat dan diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Dalam proses penulisan makalah ini mengenai materi Mengupas Upacara Adat di Suatu Daerah, saya mengucapkan terima kasih yang mendapatkan arahan, koreksi dan saran kepada :
1.  Ibu Ratna Komala, selaku dosen mata kuliah “Ilmu Budaya Dasar”.
2.  Teman-teman mahasiswa kelas 1PA10 Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma yang  telah memberikan masukan untuk makalah ini.
Saya memahami bahwa makalah saya belum sempurna dan dibutuhkan pendalaman lebih lanjut. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan makalah ini. Saya juga berharap semoga gagasan pada makalah ini dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan pecinta adat Indonesia pada khususnya dan pembaca pada umumnya.



Depok,  Oktober 2019



                                                                                                             (Penulis)






DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL / COVER ……………………………………...............................  i
KATA PENGANTAR  …………………………………….............................................  ii
DAFTAR ISI ……………………………………............................................................  iii
BAB I PENDAHULUAN …………………………………….........................................  1
1.1. Latar Belakang ………..……………………………………..............................  1
1.2. Rumusan Masalah …………………………………….......................................  1
1.3. Tujuan ……………………………………………….........................................  2
BAB II PEMBAHASAN ……………………………………..........................................  3
2.1. Definisi Upacara Adat  .……..……………………………………...………….  3
2.2. Upacara Saraswati Adat Bali ....…..……………………………………….….... 3 
2.3. Proses Upacara Saraswati …………………………………………………….... 6
2.4. Makna Upacara Saraswati ………..…………………………….…………….... 8
DAFTAR  PUSTAKA ....................................................................................................... 11






BAB I
PENDAHULUAN

1.       LATAR BELAKANG

Di setiap daerah yang tersebar luas di seluruh pelosok negara Indonesia, terdapat adat dan kebudayaan. Menurut Depdikbud (2006), adat adalah kebiasaan turun-temurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai budaya masyarakat yang bersangkutan. Adat memperlihatkan bagaimana anggota masyarakat bertingkah laku, baik dalam kehidupan yang bersifat duniawi maupun terhadap hal-hal yang bersifat gaib. Sedangkan, kata kebudayaan itu sendiri asalnya terbentuk dari kata budaya. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.
 Di setiap adat, biasanya terdapat upacara dan tarian tradisional yang menggambarkan sifat-sifat atau kepercayaan yang dipegang oleh masyarakat di adat tersebut. Timbulnya tradisi ini menyebabkan berkembangnya ilmu pengetahuan dan perluasan akan pemahaman tentang upacara-upacara adat tertentu. Salah satu adat yang sangat terkenal dan identik dengan upacara-upacara adatnya ialah adat Bali.
Selain terkenal di level internasional karena menjadi tempat tujuan pariwisata terbaik di Indonesia, Bali juga terkenal akan adat dan kebudayaannya yang mempunyai ciri khas yang unik. Adat Bali terkenal akan upacara-upacara adat yang mana banyak dari masyarakatnya yang ikut berbaur dalam upacara adat tersebut, dimana semuanya mengenakan pakaian adat Bali, dan pakaian-pakaian adat Bali lainnya yang digunakan tergantung pada upacara adat Bali tersebut. Upacara adat di Bali ini memang ada kaitannya dengan kehidupan-kehidupan beragama pada masyarakat setempat. Di kesempatan kali ini, penulis akan membahas topik tentang salah satu upacara adat Bali yaitu Upacara Saraswati.

1.2.    RUMUSAN MASALAH
  Untuk memperjelas tentang Upacara Saraswati, maka akan kita bahas mengenai:

1.   Apa pengertian upacara adat pada umumnya?
2.   Apakah Upacara Saraswati secara umum?
3.   Bagaimanakah proses Upacara Saraswati?
4. Apa makna-makna yang terkandung dalam Upacara Saraswati?

1.3.    TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan, yaitu:
1.  Untuk menyelesaikan tugas Ilmu Budaya Dasar bab ke-3.
2.  Dapat menyajikan makalah tentang Upacara Saraswati Adat Bali secara informatif  dan faktual.
3.  Agar melestarikan upacara adat budaya Indonesia yang sudah mulai tergusur oleh budaya asing.



















BAB II
PEMBAHASAN


2.1.  DEFINISI UPACARA ADAT
Secara etimologi, upacara adat terbagi menjadi dua kata yaitu upacara dan adat.
a. Menurut KBBI, Upacara adalah peralatan (menurut adat-istiadat); rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada aturan tertentu menurut adat atau agama, atau perbuatan atau perayaan yang dilakukan atau diadakan sehubungan dengan peristiwa penting (seperti pelantikan pejabat, pembukaan gedung baru). Sedangkan Adat adalah wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum, dan aturan yang satu dengan lainnya berkaitan menjadi suatu sistem.
b. Menurut Koentjaraningrat (2010), upacara adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sekelompok orang yang memiliki aturan tertentu sesuai dengan tujuan. Dan yang dimaksud dengan adat adalah wujud ideal dari kebudayaan yang berfungsi sebagai pengaturan tingkah laku.
Dapat disimpulkan bahwa upacara adat adalah upacara yang berhubungan dengan adat suatu masyarakat.


2.2.  UPACARA SARASWATI ADAT BALI
  Hari raya Saraswati adalah hari yang penting bagi umat Hindu, khususnya bagi siswa sekolah dan penggelut dunia pendidikan karena umat Hindu mempercayai hari Saraswati adalah turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia untuk kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan meningkatkan keberadaban umat manusia. Hari raya Saraswati diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada hari Saniscara Umanis suku Watugunung.
Di hari Saraswati biasanya pagi2 para siswa sekolah sudah sibuk mempersiapkan upacara sembahyang di sekolah masing2, sehabis itu biasanya para siswa melanjutkan sembahyang ke pura2 lainnya. Dan pura yang menjadi favorit adalah pura Jagatnatha yang ada di pusat kota. Di sekolah, di pura, di rumah maupun di perkantoran semua buku, lontar, pustaka2 dan alat2 tulis di taruh pada suatu tempat untuk diupacarai. Ada mitos pada hari Saraswati tidak diperbolehkan untuk menulis dan membaca lho…
Hari Raya Saraswati yaitu hari Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati, jatuh pada tiap-tiap hari Saniscara Umanis wuku Watugunung. Pada hari itu kita umat Hindu merayakan hari yang penting itu. Terutama para pamong dan siswa-siswa khususnya, serta pengabdi-pengabdi ilmu pengetahuan pada umumnya.
Dalam legenda digambarkan bahwa Saraswati adalah Dewi/lstri Brahma. Saraswati adalah Dewi pelindung/ pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Berkat anugerah dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan.
Beliau disimbolkan sebagai seorang dewi yang duduk diatas teratai dengan berwahanakan seekor angsa (Hamsa) atau seekor merak, berlengan empat dengan membawa sitar/veena dan ganatri di kedua tangan kanan, tangan kiri membawa pustaka/kitab dan tangan kiri satunya ikut memainkan gitar membawa sitar/veena dan ganatri di kedua tangan kanan, tangan kin membawa pustaka/kitab dan tangan kiri satunya ikut memainkan veena atau bermudra memberkahi.
Makna dan simbol-simbol ini adalah:
1. Berkulit putih, bermakna: sebagai dasar ilmu pengetahuan (vidya) yang putih, bersih dan suci.
2. Kitab/pustaka ditangan kiri, bermakna: Semua bentuk ilmu dan sains yang bersifat sekular. Tetapi walaupun vidya (ilmu pengetahuan spiritual) dapat mengarahkan kita ke moksha, namun avidya (ilmu pengetahuan sekular jangan diabaikan dulu). Seperti yang dijelaskan Isavasya-Upanishad: “Kita melampaui kelaparan dan dahaga melalui avidya, kemudian baru melalui vidya meniti dan mencapai moksha.”
3. Veena, bermakna: seni, musik, budaya dan suara aum. Juga merupakan simbol keharmonisan pikiran, budhi, kehidupan dengan alam lingkungan.
4. Akshamala/ganatri/tasbih di tangan kanan, bermakna: Ilmu pengetahuan spiritual itu lebih berarti daripada berbagai sains yang bersifat sekular (ditangan kiri). Akan tetapi bagaimana pun pentingnya kitab-kitab dan ajaran berbagai ilmu pengetahuan, namun tanpa penghayatan dan bakti yang tulus, maka semua ajaran ini akan mubazir atau sia-sia.
5. Wajah cantik jelita dan kemerah-merahan, bermakna: Simbol kebodohan dan kemewahan duniawi yang sangat memukau namun menyesatkan (avidya).
6. Angsa (Hamsa), melambangkan: Bisa menyaring air dan memisahkan mana kotoran dan mana yang bisa dimakan, mana yang baik mana yang buruk, walaupun berada di dalam air yang kotor dan keruh maupun lumpur (simbol vidya).
7. Merak, bermakna: berbulu indah, cantik dan cemerlang biarpun habitatnya di hutan. Dan bersama dengan angsa bermakna sebagai wahana (alat, perangkat, penyampai pesan-pesan-Nya).
8. Bunga Teratai/Lotus, bermakna: bisa tumbuh dengan subur dan menghasilkan bunga yang indah walaupun hidupnya di atas air yang kotor.
Upacara pada hari Saraswati, pustaka-pustaka, lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya, dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, atau di dalam bilik untuk diupacarai
Widhi widhana (bebanten = sesajen) terdiri dari peras daksina, bebanten dan sesayutSaraswati, rayunan putih kuning serta canang-canang, pasepan, tepung tawar, bunga, sesangku (samba = gelas), air suci bersih dan bija (beras) kuning.


2.3.  PROSES UPACARA SARASWATI
Pemujaan/permohonan Tirtha Saraswati dilakukan mempergunakan bahan-bahan: air, bija, menyan astanggi dan bunga.
·         Ambil setangkai bunga, pujakan mantra: Om, puspa danta ya namah.
·          
·         Sesudahnya dimasukkan ke dalam sangku. Ambil menyan astanggi, dengan mantra: “Om, agnir, jyotir, Om, dupam samar payami“.
·          
·         Kemudian masukkan ke dalam pedupaan (pasepan).
·          
·         Ambil beras kuning dengan mantram : “Om, kung kumara wijaya Om phat“.
·          
·         Masukkan ke dalam sesangku.
·          
·         Setangkai bunga dipegang, memusti dengan anggaranasika, dengan mantram:
·          
Mantra
Artinya
Om, Saraswati namostu bhyam Warade kama rupini Siddha rastu karaksami Siddhi bhawantu sadam.
Om, Dewi Saraswati yang mulia dan maha indah,cantik dan maha mulia. Semoga kami dilindungi dengan sesempurna-sempurnanya. Semoga kami selalu dilimpahi kekuatan.
Om, Pranamya sarwa dewanca
para matma nama wanca.
rupa siddhi myaham.
Om, kami selalu bersedia menerima restu-Mu ya para Dewa dan Hyang Widhi, yang mempunyai tangan kuat. Saraswati yang berbadan suci mulia.
Om Padma patra wimalaksi
padma kesala warni
nityam nama Saraswat.
Om, teratai yang tak ternoda, Padma yang indah bercahaya. Dewi yang selalu indah bercahaya, kami selalu menjunjung-Mu Saraswati.
·         Sesudahnya bunga itu dimasukkan ke dalam sangku. Sekian mantram permohonan tirta Saraswati. Kalau dengan mantram itu belum mungkin, maka dengan bahasa sendiri pun tirta itu dapat dimohon, terutama dengan tujuan mohon kekuatan dan kebijaksanaan, kemampuan intelek, intuisi dan lain-lainnya.
·          
·         Setangkai bunga diambil untuk memercikkan tirtha ke pustaka-pustaka dan banten-banten sebanyak 5 kali masing-masing dengan mantram:
·          
o   Om, Saraswati sweta warna ya namah.
o    
o   Om, Saraswati nila warna ya namah.
o    
o   Om, Saraswati pita warna ya namah.
o    
o   Om, Saraswati rakta warna ya namah.
o    
o   Om, Saraswati wisma warna ya namah.
o    
·         Kemudian dilakukan penghaturan (ngayaban) banten-banten kehadapan Sang Hyang Aji Saraswati
·          
·         Selanjutnya melakukan persembahyangan 3 kali ditujukan ke hadapan :
·          
o   Sang Hyang Widhi (dalam manifestasinya sebagai Çiwa Raditya).
o    
o   Sang Hyang Widhi (dalam manifestasinya sebagai Tri Purusa)
o    
o   Dewi Saraswati.
o    
·         Ucapkan mantra berikut:
·          
Mantramnya
Artinya
Om, adityo sya parajyote rakte tejo namastute sweta pangkaja madyaste Baskara ya namo namah.
Om, rang ring sah Parama Çiwa Dityo ya nama swaha.
Om, Tuhan Hyang Surya maha bersinar-sinar merah yang utama. Putih Iaksana tunjung di tengah air, Çiwa Raditya yang mulia.
Om, Tuhan yang pada awal, tengah dan akhir selalu dipuja.
Om, Pancaksaram maha tirtham, Papakoti saha sranam Agadam bhawa sagare. Om, nama Çiwaya.
Om, Pancaksara Iaksana tirtha yang suci. Jernih pelebur mala, beribu mala manusia olehnya. Hanyut olehnya ke laut lepas.
Om, Saraswati namostu bhyam,
Warade kama rupini,
Siddha rastu karaksami,
Siddhi bhawantume sadam.
Om Saraswati yang mulia indah, cantik dan maha mulia, semoga kami dilindungi sesempurna-sempurnanya, semoga selalu kami dilimpahi kekuatan.
Sesudah sembahyang dilakukan metirtha dengan cara-cara dan mantra-mantra sebagai berikut :
·         Meketis 3 kali dengan mantra:
·          
o   Om, Buddha maha pawitra ya namah.
o    
o   Om, Dharma maha tirtha ya namah.
o    
o   Om, Sanghyang maha toya ya namah.
o    
·         Minum 3 kali dengan mantram:
·          
o   Om, Brahma pawaka.
o    
o   Om, Wisnu mrtta.
o    
o   Om, Içwara Jnana.
o    
·         Meraup 3 kali dengan mantra :
·          
o   Om, Çiwa sampurna ya namah.
o    
o   Om, Çiwa paripurna ya namah.
o    
o   Om, Parama Çiwa suksma ya namah.
o    
·         Terakhir melabahan Saraswati yaitu makan surudan Saraswati sekedarnya, dengan tujuan memohon agar diresapi oleh wiguna Saraswati
·          


2.4.  MAKNA UPACARA SARASWATI
Masyarakat awam kerap bertanya, “Apa maksud menyembah dewa-dewa atau dewi-dewi melalui simbol-simbol atau patung, gambar dan sebagainya? Padahal Tuhan hanya satu, kenapa ada banyak dewa atau dewi?”
Dewa berasal dari kata “div” yaitu sinar/pancaran. Pengertiannya adalah bahwa Tuhan itu adalah satu, tapi mempunyai aspek-aspek dengan pancaran sinar-Nya (Nur Illahi) yang bermacam-macam sesuai dengan fungsinya. ang bermacam-macam sesuai dengan fungsinya. Pada saat menciptakan disebut Brahma, saat memelihara disebut Wishnu, dan saat pendaur ulang disebut Shiwa, dan sebagainya. Tapi sebenarnya Brahma, Wishnu, Shiva adalah satu (Trimurti).
Para dewa ini mempunyai pendamping (Shakti), yaitu: Brahma shakti-Nya Saraswati, Wishnu shakti-Nya Lakshmi dan Shiwa shakti-Nya Parvati (Durga). Disini Dewi Saraswati sebagai aspek Tuhan Yang Maha Esa pada saat menurunkan ilmu pengetahuan (vidya), kecerdasan, ucapan, musik, budaya dan sebagainya. Demikian pula dijabarkan dalam konsep Gayatri yang terdiri dari tiga aspek, yaitu: Saraswati menguasai ucapan/tutur kata, Gayatri menguasai intelek/budhi dan savitri yang menguasai prana/nafas.
Jadi makna pemujaan Dewi Saraswati adalah memuja dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan memfokuskan pada aspek Dewi Sa-raswati (simbol vidya) atas karunia ilmu pengetahuan yang di karuniakan kepada kita semua, sehingga akan terbebas dan avidyam (kebodohan), agar dibimbing menuju ke kedamaian yang abadi dan pencerahan sempurna.
Setelah Saraswati puja selesai, biasanya dilakukan mesarnbang semadhi, yaitu semadhi ditempat yang suci di malam hari atau melakukan pembacaan lontar-lontar semalam suntuk dengan tujuan menernukan pencerahan Ida Hyang Saraswati
Puja astawa yang disiapkan ialah : Sesayut yoga sidhi beralas taledan dan alasnya daun sokasi berupa nasi putih daging guling, itik, raka-raka sampian kernbang payasan. Sesayut ini dihaturkan di atas tempat tidur, dipersembahkan ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati.
Keesokan harinya dilaksanakan Banyu Pinaruh, yakni asuci laksana dipagi buta berkeramas dengan air kumkuman. Ke hadapan Hyang Saraswati dihaturkan ajuman kuning dan tamba inum. Tamba inum ini terdiri dari air cendana, beras putih dan bawang lalu diminum, sesudahnya bersantap nasi kuning garam, telur, disertai dengan puja mantram:
·         Om, Ang Çarira sampurna ya namah swaha.
·          
Semua ini mengandung maksud, mengambil air yang berkhasiat pengetahuan.
Dari perayaan ini kita dapat mengambil hikmahnya, antara lain:
1. Kita harus bersyukur kepada Hyang Widhi atas kemurahan-Nya yang telah menganugrahkan vidya (ilmu pengetahuan) dan kecerdasan kepada kita semua.
2. Dengan vidya kita harus terbebas dari avidya (kebodohan) dan menuju ke pencerahan, kebenaran sejati (sat) dan kebahagiaan abadi.
3. Selama ini secara spiritual kita masih tertidur lelap dan diselimuti oleh sang maya (ketidakbenaran) dan avidyam (kebodohan). Dengan vidya ini mari kita berusaha untuk bangun dan tidur kita, hilangkan selimut maya, sadarilah bahwa kita adalah atma, dan akhirnya tercapailah nirwana.
4. Kita belajar dan angsa untuk menjadi orang yang lebih bijaksana. Angsa bisa menyaring air, memisahkan makanan dan kotoran walaupun di air yang keruh/kotor atau lumpur. Juga jadilah orang baik, seperti buruk merak yang berbulu cantik, indah dan cemerlang walaupun hidupnya di hutan.
5. Kita masih memerlukan/mempelajari ilmu pengetahuan dan sains yang sekuler, tetapi harus diimbangi dengan ilmu spiritual dengan peng-hayatan dan bakti yang tulus.
6. Laksanakan Puja/sembahyang sesuai dengan kepercayaannya masing-masing secara sederhana dengan bakti yang tulus/ikhlas, bisa dirumah, kuil, atau pura dan lain-lain.



























DAFTAR PUSTAKA

https://www.bulelengkab.go.id/detail/artikel/makna-dan-inti-perayaan-hari-raya-saraswati-71
https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/705/jbptunikompp-gdl-abdulkarim-35208-10-unikom_a-i.pdf
https://kbbi.web.id/upacara
https://kbbi.web.id/adat
https://baabun.com/kebudayaan-bali/#Upacara_Adat_Bali





















No comments:

Post a Comment

Senyawa Terbaru yang Berguna bagi Kehidupan Manusia

TUGAS MATEMATIKA DAN ILMU ALAMIAH DASAR “SENYAWA TERBARU YANG BERGUNA BAGI KEHIDUPAN MANUSIA” Website Gunadarma Disusun ...