TUGAS MATEMATIKA & ILMU ALAMIAH DASAR
“SENYAWA-SENYAWA DALAM ANTIDEPRESSANT”
Disusun oleh:
Muhammad Farhansyah Ibrahim (14519154)
Kelas: 1PA10
Mata Kuliah: Matematika dan Ilmu Alamiah Dasar
Dosen : Annur Husnul Khotimah
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2020
Antidepressant adalah obat/terapi penangkal depresi manusia yang umumnya didapatkan dari resep dokter. Antidepressant, meskipun dapat menyebabkan ketergantungan dan efek samping lainnya, bisa menyelamatkan nyawa manusia. Antidepressant terdiri dari senyawa-senyawa untuk medis. Terdapat beberapa antidepressant yang seringkali diberikan oleh dokter.
1. Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor (SSRIs)
Serotonin adalah neurotransmitter yang terkait dengan perasaan sehat dan bahagia. Pada otak orang yang mengalami depresi, produksi serotoninnya rendah.
SSRI digunakan untuk mengobati depresi sedang sampai berat. SSRI bekerja memblokir serotonin agar tidak diserap kembali oleh sel saraf (saraf biasanya mendaur ulang neurotransmitter ini). Hal ini menyebabkan peningkatan konsentrasi serotonin, yang dapat meningkatkan mood dan kembali menumbuhkan minat terhadap aktivitas yang dulunya Anda sukai.
SSRI adalah jenis antidepresan yang paling sering diresepkan karena risiko efek sampingnya tergolong rendah. Contoh obat-obatan dalam jenis ini adalah escitalopram (Lexapro), fluoxetine (Lovan atau Prozac), paroxetine (Aropax), sertraline (Zoloft), dan citalopram (Cipramil).
Efek samping SSRI yang mungkin muncul, meliputi:
- Gangguan saluran cerna (dipengaruhi jumlah dosis) seperti mual, muntah, dispepsia, sakit perut, diare, konstipasi.
- Anoreksia dengan penurunan berat badan, namun ada juga dalam beberapa kasus mengalami peningkatan nafsu makan sehingga terjadi kenaikan berat badan
- Reaksi hipersensitivitas termasuk gatal, biduran, anafilaksis, myalgia
- Mulut kering
- Gugup
- Halusinasi
- Mengantuk
- Kejang
- Gangguan fungsi seksual
- Gangguan pada kandung kemih untuk mengeluarkan urin atau mengosongkannya
- Gangguan pengelihatan
- Gangguan perdarahan
- Hiponatremia
Perlu diingat juga bahwa SSRI tidak boleh digunakan jika pasien memasuki fase manik.
2. Serotonin and Norepinephrine Reuptake Inhibitors (SNRIs)
SNRI menghambat serotonin dan norepinephrine agar tidak diserap kembali oleh sel saraf. Norepinephrine terlibat dalam sistem saraf otak yang memicu respon rasa ketertarikan terhadap rangsangan dari luar dan memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu. Oleh karena itu, SNRI diyakini lebih efektif daripada obat jenis SSRI yang hanya berfokus pada serotonin.
Obat antidepresan yang termasuk dalam kelompok SNRI adalah venlafaxine (Effexor XR), desvenlafaxine (Pristiq), duloxetine (Cymbalta), dan reboxetine (Edronax). Efek samping dari obat-obatan jenis ini, termasuk:
- Mual dan muntah
- Pening; kepala kliyengan
- Sulit tidur (insomnia)
- Mimpi yang tidak biasa; mimpi buruk
- Keringat berlebihan
- Sembelit
- Gemetar
- Merasa cemas
- Masalah seksual
3. Trisiklik
Trisiklik bekerja langsung menghambat sejumlah neurotransmiter, termasuk serotonin, epinefrin, dan norepinephrine, agar tidak kembali terserap sekaligus juga mengikat reseptor sel saraf. Biasanya, obat ini diresepkan untuk orang-orang yang sebelumnya pernah diberikan SSRI namun tidak ada perubahan gejala.
Obat antidepresan yang termasuk dalam golongan ini adalah amitriptyline (Endep), clomipramine (Anafranil), dosulepin (Prothiaden atau Dothep), doxepin (Deptran), imipramine (Tofranil), nortriptyline (Allegron).
Efek samping yang ditimbulkan dengan obat jenis ini adalah:
- Aritmia
- Blokade jantung (khususnya pada penggunaan amitriptyline)
- Mulut kering
- Pandangan kabur
- Konstipasi
- Berkeringat
- Mengantuk
- Retensi urin
- Detak jantung cepat atau tidak teratur
Efek samping ini dapat dikurangi jika pada awalnya diberi dalam dosis rendah, dan kemudian dinaikan secara bertahap. Pendosisan secara bertahap khususnya diterapkan pada lansia yang mengalami depresi, karena ada resiko penurunan tekanan darah.
4. Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOIs)
Monoamine oxidase inhibitor (MAOIs) bekerja menghambat enzim monoamine oxidase yang dapat menghancurkan serotonin, epinefrin, dan dopamin. Ketiga neurotransmitter ini bertanggung jawab untuk menimbulkan perasaan bahagia.
Contoh obat jenis ini adalah tranylcypromine (Parnate), phenelzine (Nardil), dan isocarboxazid (Marplan). Biasanya MAOI diresepkan ketika obat-obatan antidepresan lainnya tidak memberikan perbaikan gejala. MAOI dapat menimbulkan interaksi dengan beberapa makanan, seperti keju, acar/asinan, dan anggur. Oleh karena itu, Anda harus berhati-hati dengan makanan yang Anda konsumsi saat sedang menggunakan obat tersebut.
Obat jenis ini memiliki efek samping yang sangat serius. Adapun efek samping yang terjadi yakni :
- Pening (kepala kliyengan, sensasi ruangan berputar)
- Perubahan tekanan darah
- Merasa ngantuk
- Sulit tidur
- Pusing
- Timbunan cairan dalam tubuh (misalnya pembengkakan pada kaki)
- Penglihatan kabur
- Kenaikan berat badan
5. Noradrenaline and specific serotonergic antidepressants (NASSAs)
NASSAs adalah antidepresan yang bekerja dengan meningkatkan kadar noradrenalin dan serotonin. Obat yang termasuk dalam jenis ini adalah mirrazapine (Avanza). Serotonin dan noradrenalin merupakan neurotransmiter yang mengatur mood dan emosi. Serotonin juga ikut mengatur siklus tidur dan nafsu makan.
Adapun efek samping yang diberikan dari obat ini adalah rasa mengantuk, nafsu makan meningkat, berat badan naik, mulut kering, sembelit, gejala flu, dan pusing.
DAFTAR PUSAKA
Setiaji, Rr. Bamandhita Rahma. 2017. “Antidepressant Paling Umum”. Diakses pada https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/antidepresan-paling-umum/, `14 Maret 2020
No comments:
Post a Comment